Kamis, 07 Mei 2015

Menjadi Istri

Menikah itu complicated? Jujur. Iya, jelas IYA.
Karena bukan a menikah dengan b. Tetapi a masuk ke keluarga b. Tidak semudah yg dibayangkan. Jadi jangan dibayangkanlah, laksanakan saja. 

Dulu saya sempat diberi petuah oleh semacam kerabat dr suami.
Dia bingung kenapa orang-orang selalu menganggap dia berlebihan menyayangi dan mencintai istrinya. Jawabnya, "istri saya meninggalkan keluarganya yg hidup bersamanya dr kecil, meninggalkan kawitannya hanya untuk saya dan masuk ke keluarga saya. Jelas saya akan menyayanginya dan menjaganya"

Suami sayapun melakukannya. Saya tersanjung. Maka, sayapun akan berusaha beradaptasi (seumur hidup) di keluarga baru ini.

Meskipun, dikeluarga saya jika melakukan semua hal sendiri dianggap mandiri, tp dikeluarga baru ini dianggap tidak menganggap orang lain ada (krn tdk minta tolong)

Meskipun, dikeluarga saya tidak banyak bicara dianggap biasa (karena sekeluarga memang tdk suka bicara), tp dikeluarga ini dianggap sombong.

Meskipun, dikeluarga saya sangat mengutamakan kebersihan, tp dikeluarga ini ketika sy mengamalkannya malah ditertawakan karena dianggap berlebihan.

Iya, dua keluarga ini tidak salah. Mereka hanya tumbuh dengan kebiasaan yang berbeda. Saya sungguh tdk bisa merubah kebiasaan yg sudah 27 tahun ada pd diri sy, tp sy berusaha untuk tidak menyakiti siapapun.

Atau mungkin sesekali sy harus mengamalkan kata kakak laki-laki saya "de ngerambang munyin anak, masih sing ye ngebang mang makan"

Well said bro.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar